Ditanya Dasar Hukum Memungut Sampah di Pasar Oleh Mahasiswa, Dedi Mulyadi Marah: Anda Harusnya Malu!

Seorang mahasiswa tiba-tiba protes saat anggota DPR RI Dedi Mulyadi melakukan aksi bersih-bersih di Pasar Rebo Purwakarta.

Mahasiswa tersebut protes dan mempertanyakan kapasitas Dedi Mulyadi untuk membersihkan lingkungan di sekitar pasar itu dari sampah.

Kejadian bermula saat Kang Dedi Mulyadi memungut, menyingkirkan, dan mengangkut sampah bersama Ikatan Warga Pasar (Iwapa) Pasar Rebo Purwakarta.

Selain itu Dedi Mulyadi pun berdiskusi dengan aparat pemerintahan untuk bersama-sama menata pedagang yang langsung direspons positif oleh pemerintah.

Untuk mengangkut sampah yang berserakan dan membantu aparat menertibkan lapak pedagang, Dedi pun berinisiatif mengajak para pengemudi ojek untuk turut membantu.

“Ini ojek ada berapa orang? Sok bantuin saya bersihkan pasar nanti dibayar Rp 150 ribu per orang. Semua orang harus taat aturan dan dagang tertib,” kata Dedi Mulyadi.

Saat sedang memunguti sampah itu tiba-tiba Dedi Mulyadi dihampiri seorang pemuda yang mengaku sebagai mahasiswa STAI Muttaqien jurusan hukum keluarga.

Pria tersebut bernama Yudha Dawami.

“Akang di sini sebagai apa? Apa dasar hukumnya?,” tanya Yudha kepada Dedi Mulyadi.

“Saya di sini sebagai warga yang ingin Purwakarta bersih. Kalau membersihkan lingkungan harus ada dasar hukum?,” jawab Dedi.

“Kan ada yang berwenang,” timpal Yudha.

“Iya memang ada mereka yang berwenang kok. Di sini ada Iwapa, Dishub juga. Saya hanya membantu. Saya warga Purwakarta, kenapa (pasar) Anda biarkan kotor,” kata Dedi.

 Yudha tetap melakukan protes dan menilai Dedi Mulyadi tak berwenang membersihkan pasar dari sampah karena bukan pelaksana teknis.

“Loh tidak masalah. Pungut sampah itu kewajiban. Saya warga Purwakarta yang mencintai kebersihan,” kata Dedi menanggapi protes mahasiswa itu

“Saya juga mencintai kebersihan,” kata Yudha.

“Ya, terus kenapa dibiarkan (sampah). Saya tidak akan melayani orang yang pandai berteori,” timpal Dedi.

Mahasiswa itu pun terus memprotes jawaban Dedi. Ia merasa apa yang diungkapkan merupakan protes warga yang diwakili olehnya.

Mendengar hal itu Dedi pun menanyakan masyarakat mana yang diwakili oleh Yudha.

Namun Yudha tak menjawab dan terus menanyakan kewenangan juga kompetensi Dedi membersihkan padsar dari sampah.

“Memungut (sampah) tidak perlu kewenangan atau kompetensi,” ujar Kang Dedi.

Karena warga dan pedagang semakin berkumpul, Dedi pun mengajak pemuda tersebut menuju suatu ruangan untuk melanjutkan diskusi.

Di ruangan terungkap pemuda tersebut berasal dari Plered, Purwakarta. Dedi pun langsung menanyakan keberadaan Yudha saat ia memunguti sampah di wilayah Plered.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu Dedi melakukan aksi bersih-bersih di sekitar Plered mulai dari jalan utama hingga area pasar.

Di lokasi tersebut ditemukan banyak sampah menumpuk di pinggir jalan dan pasar hingga terdapat bangkai binatang yang sudah berminggu-minggu.

Dedi menilai Yudha yang mengaku sebagai mahasiswa cinta lingkungan tidak peka karena membiarkan lingkungan rumahnya kotor dan penuh sampah.

Bahkan sampah harus diangkut oleh Dedi yang bukan orang Plered.

“Kenapa anda mahasiswa tidak punya kepekaan ada orang setiap hari buang sampah dan membiarkan, jangan-jangan anda ikut buang."

"Harusnya anda malu sebagai warga Plered, memungut sampah oleh saya. Anda jangan ketinggian ngomong, seharusnya malu sampah depan rumah saja dibiarkan,” kata Dedi.

“Kan ada yang lebih berkompeten,” timpal Yudha.

“Pemikiran seperti anda membuat negara tidak maju. Tidak punya keinginan memperbaiki secara langsung, hanya berteori."

"Ngomongnya tinggi. Harusnya anda orang Plered malu, sampah di depan anda dibiarkan oleh anda dan saya yang memungut. Harusnya anda malu, bangkai kucing di pinggir jalan, corat-coret dibiarkan, harusnya malu,” kata Kang Dedi.

Lagi-lagi Yudha tidak menjawab dan malah menanyakan peran dan fungsi Dedi Mulyadi membersihkan Pasar Rebo dari sampah.

“Saya sebagai masyarakat Purwakarta dan Iwapa menyingkirkan sampah pasar. Justru anda harus malu."

"Orang setingkat saya Wakil Ketua Komisi IV mau pungut sampah, bersihkan lingkungan. Sementara mahasiswa seperti anda lagunya sudah kayak menteri. Ayo kumpulkan mahasiswa kita bersama angkut sampah,” kata Dedi.

Sementara itu warga yang ikut di ruangan tersebut menilai obrolan tidak akan selesai.

“Sudah Kang kalau begini terus akan lama tidak ada gunanya malah menghambat. Sudah ayo Kang kita kembali punguti sampah,” ucap warga.

Dedi pun mengajak Yudha untuk kembali ke pasar mengangkut sampah bersama warga dan pedagang. “Sudah ayo kita mulungan runtah (punguti sampah), jangan ngomong saja,” ucap Dedi.

Setelah keluar ruangan tiba-tiba Yudha izin pamit tidak ikut bersih-bersih dengan alasan ada agenda diskusi lain dengan rekan-rekannya.

“Pamit ke mana? Ayo kita bersih-bersih, kan katanya mencintai lingkungan,” ucap Kang Dedi.

“Nanti kita agendakan untuk bersih-bersih,” jawab Yudha.

Di akhir obrolan Dedi mengingatkan agar siapapun orang berhak untuk melakukan protes atau kritik. Namun hal tersebut harus disertai contoh.

“Kritik itu harus dengan contoh. Karena publik saat ini menyukai hal yang praktis, beda zaman tahun saya 90-an. Publik lebih suka yang praktis bukan teoritis,” kata Dedi Mulyadi. (*)

0 Response to "Ditanya Dasar Hukum Memungut Sampah di Pasar Oleh Mahasiswa, Dedi Mulyadi Marah: Anda Harusnya Malu!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel